Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

Minggu, 06 Mei 2018

Bermain bola lewat kaki atau hape?

Tadi sore sebelum menuju ke Pulau Kecil di Merak, Banten, saya menyempatkan turut serta bermain bola dengan adik-adik kecil yang tinggal tidak jauh dari sana. Mereka bahagia ketika saya menawarkan diri bergabung. Mereka berteriak dan tertawa sambil menendang bola. Mereka mungkin tidak paham bahwa diatas tempat mereka bermain bola kapan saja bisa ambruk, karena itu adalah jalan tol. Mereka mungkin juga tidak paham materi keselamatan kerja, karena tak jauh dari situ ada lintasan rel kereta api yang kapan saja bisa membahayakan nyawa mereka. Mereka jauh dari kata mewah tapi selalu terlihat bahagia disana.

Lantas apakah anak-anak lainnya yang tinggal di kota, yang lebih senang menghabiskan waktunya di dalam kamar ber-AC bermain bola melalui hapenya dengan temannya yang berada di kota lainnya lebih bahagia dari anak-anak tadi? Belum tentu. Anak-anak yang demikian tidak akan mengenal nikmatnya bermain permainan tradisional yang konon sekarang sedang digiatkan ulang oleh para akademisi. Mereka mungkin lekat dengan teknologi, tenggelam dalam layar 5 inchi yang mereka tidak tahu bahwa sebenarnya itu lebih berbahaya dari jalan ambruk ataupun lintasan rel kereta api.

Eki Lesmana

*Ditulis pada 22 April 2018

10 tips move on

1. Move on bisa dimulai dengan tidak lagi membuka akun mantan, seberapapun kangennya.

2. Jangan sok-sokan menghubungi mantan jika hatimu belum punya tabah yang cukup. Kalau rindu lebih baik disimpan sendiri daripada tambah sakit hati.

3. Ketika bertemu mantan, siapkan senyuman terbaik. Buktikan kalau kamu sudah bahagia meski sudah tidak lagi bersamanya. Aku tahu ini berat, tapi lakukanlah!

4. Saat mantan tiba-tiba chat kamu, tunjukkan balasan yang biasa saja. Tidak usah baper.

Tapi kayaknya tidak mungkin sih mantanmu chat kamu duluan.

5. Kalau tiba-tiba di story-nya terlalu sering berduaan dengan pacar barunya, sebisa mungkin kamu mute story-nya. Atau kalau kamu kuat tetap lihat saja. Tapi kusarankan jangan.

6. Saat idul fitri usahakan mengirimi kartu ucapan selamat idul fitri dan meminta maaf. Aku tahu kamu tidak salah, tapi meminta maaf terlebih dulu adalah hal mulia.

Kalau kamu kangen saat itulah kesempatanmu chat agak panjang, tapi jangan kebablasan.

7. Meski dia sudah bahagia, tidak ada salahnya kamu mendoakannya agar selalu bahagia. Ingat, mendoakan kebaikan orang lain meskipun sudah menyakiti kita akan berdampak kebaikan lain pada diri kita. Jadi, jangan pernah mendoakan hal-hal buruk.

8. Move on itu tidak susah, yang sudah hanya melupakan kenangannya. Jadi mulai saat ini, buatlah kenangan sebanyak mungkin dengan orang lain, entah itu teman atau kekasih baru.

Intinya, yang sudah lalu tidak sepenuhnya harus dilupakan, tapi diganti dengan kenangan baru.

9. Untuk memastikan move on mu sudah berhasil bisa ditandai dengan mulai tertarik dengan senyuman orang lain. Percayalah, senyum orang-orang terdekat lebih menenangkan daripada dicintai lagi oleh mantan.

10. Ingat, mantan itu juga manusia dan semua manusia juga akan mati. Tidak ada yang abadi. Jadi, kembalikan semua perasaan kita pada pemilik perasaan.

Tetap libatkan Tuhan, bagaimanapun bentuknya.

Eki Lesmana

"Mengenang Cilegon"



Foto minggu terakhir bersama kawan-kawan PKL di Pulau Kecil, Merak.

Aku ingin mengajakmu mengembara jauh dari dinginnya kota dan penuh sesak kendaraan mahasiswa. Jalanan itu penuh sesak karena mereka lebih memilih tunduk dalam gairah mesin-mesin di jalanan daripada berjalan kaki yang hanya lima menit. Aku ingin pergi sejenak dari kota itu, mencari kesunyian dalam keramaian kota lain. Maka ikutlah aku larut dalam perjalanan kereta 15 jam, duduk dan membaca buku karya R.A. Kartini tentang emansipasi perempuan. Lalu nikmati pemandangan kerlap kerlip lampu rumah warga di jendela sambil membayangkan sosok seorang Ibu di dalamnya sedang mengajarkan kebaikan-kebaikan kecil yang kubaca dari buku itu. Aku tahu ia tak pernah membacanya, tapi memang demikianlah seorang Ibu, kebaikannya memang kadang tak cukup dituliskan di dalam buku-buku, karena sejatinya kebaikan itu adalah laku dan perbuatannya.

Lima belas jam kemudian kereta berhenti dan kita akan melompat menuju bus kota yang mengantar kita ke tujuan 4 jam ke depan. Lalu kita akan tiba disana disambut asap motor kendaraan, juga terik matahari siang yang rasanya tak jauh lebih panas dari berada di dekat tungku pembakaran. Kota itu teramat panas apalagi bagi kami yang datang dari dataran dengan ketinggian berbeda, karena memang demikianlah Kota Cilegon. Disana kita akan menuju Perumahan Cilegon Indah blok C20,  karena disanalah aku akan tinggal sebulan ke depan bersama alumni yang kebaikannya tak bisa dibayar dengan apapun. Kita beruntung memiliki mereka, karena memang demikianlah tugas mereka untuk senantiasa berbakti kepada almamaternya dimanapun berada. Aku salut, juga paham bahwa kelak aku juga harus melakukan dan mengemban tugas itu. Demikian aku rasa nilai-nilai yang mereka tanamkan melalui kebaikannya.

Esok hari, aku ingin mengajakmu ke perusahaan di ujung Kota Merak. Kita akan berjalan satu menit untuk menuju titik tunggu bus perusahaan itu yang setia menjemput dan mengantar pulang setiap hari tanpa membayar serupiah pun. Dari dalam bus kita nikmati pemandangan bukit-bukit indah nan hijau yang menjadi penyejuk di tengah nafsu dan amarah matahari di atas sana. Dari sini pula dapat kita lihat perusahaan-perusahaan besar yang bertengger rapi dengan cerobong-cerobong asap teramat tinggi. Cerobong asap itulah penanda kehidupan kota yang denyut nadinya dari industri biji plastik, besi, dan sejenisnya. Sampai disana kita akan larut dalam lembar-lembar percakapan tentang safety dan proses industri kimia, juga tugas-tugas khusus yang memusingkan kepala. Namun, aku percaya kita akan melewatinya.

Inginkah kamu kukenalkan dengan keindahan lain tentang kota itu? Rasakanlah debar dada yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya karena melihat senyum seorang perempuan yang begitu mudah menawan hati. Tati, namanya. Pandanglah ia lebih lama, lantas dengan mudah kau akan mengatakan "Aih, cantik sekali". Karena demikianlah lelaki, begitu mudah jatuh hati. Nikmatilah pertemuan itu karena sebulan kemudian kamu tak akan bisa menemukannya dimanapun lagi. Senyum itu hanya dapat disimpan dalam potret foto yang kapanpun bisa dirusak virus, maka kusarankan simpanlah dalam mata dan ingatan terbaikmu. Karena memang perpisahan hanya mengajarkan cara mengingat bukan melupakan.

Di satu sore aku akan mengajakmu bermandi cahaya senja keemasan di pulau kecil dengan menyeberang perahu seadanya. Kita siapkan bekal terbaik, ikan bumbu kecap juga ayam bakar bumbu merah yang enaknya tak kalah dengan Rumah Makan Sari Kuring Indah yang terkenal itu. Salah satu dari kita akan membakarnya dengan arang panas yang tak pernah berkeluh kesah mematangkan apapun diatasnya. Beberapa lainnya hanya perlu menyanyikan lagu-lagu bahagia yang menunjukkan bahwa kita betah dan telah melupakan kata sedih. Salah satu lainnya bertugas menghidangkan senja dengan gambar-gambar terbaik, kamu tak perlu bingung karena itu adalah keahlianku. Cukup nikmati apa-apa yang menjadi tugasmu dan padukan dalam selembar nasi, ayam dan ikan yang akan kita lahap bersama. Sesekali lihatlah ke kiri, amati dan dengarlah deru peluit kapal feri yang pergi memulangkan rindu-rindu penumpangnya. Di depan mata, senja semakin menguning. Kita bisa melihat anak gunung krakatau yang gagah tiada tertandingi. Kita habiskan senja ini dengan nuansa dan panorama ciptaan Tuhan. Sesekali aku bisa melihat senyum dan memotret perempuan tadi juga memandangi mata indahnya. Ah, ternyata memang benar, Tuhan menyukai keindahan dan senja itu lebih indah ketika aku melihatnya tenggelam di matanya.

Kini aku pulang. Pada akhirnya segala yang sudah terasa nyaman harus dipisahkan. Aku akan mengajakmu kembali ke kotaku, tunduk dan patuh pada dinginnya kabut di pagi hari. Kita akan kembali berbaur dengan hujan yang konon turunnya tidak mengenal musim. Jauh dari tempatku pulang, diam-diam aku berharap agar suatu saat nanti bisa kembali untuk menjemput takdir Tuhan, lalu mengabarkan bahwa satu bulan disana telah mengubah hidupku jauh lebih baik.

Eki Lesmana

*ditulis saat perjalanan pulang dari dalam bus menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta tanggal 28 April 2018.

"Tati"

Aku melihat perempuan itu di hari keempatku berada di Cilegon. Tatap matanya indah seperti satu senja yang pernah kunikmati dengan secangkir kopi. Cara bicaranya lembut membuatku ingin mendengarnya berulangkali. Ada ketenangan yang kurasakan saat berada di dekatnya.

Perempuan itu mendekat, menyodorkan tangannya "Aku Tati." duh suaranya sungguh mendamaikan. Aku tidak menyalaminya, sudah sejak lama aku tidak lagi menyentuh tangan perempuan. Perempuan itu seperti barang antik yang tak boleh disentuh apabila belum dibeli, ia mahal dan suci, barangkali alasan ini cukup untuk memberi tahumu perihal tindakanku itu. Aku mengenalkan diri lalu mendekatkan kedua tanganku sambil tetap menghormatinya dengan gaya menyalami meski tidak bersentuhan.

Ia tersenyum. Andai kau tahu senyumnya, duh. Tidak ada bahasa satupun di dunia ini yang mampu merepresentasikannya secara utuh. Tidak ada diksi yang pas untuk menggambarkan keanggunannya. Tidak ada majas yang sanggup kupilih untuk menjelaskan betapa manisnya. Perempuan itu luar biasa dan aku rasa, senyumnya melampaui kata-kata. Bersusah payah menjelaskannya dengan kata-kata, aku justru takut, hanya akan mengurangi keindahannya. Maka aku memilih diam dan takjub dalam doa. Benar kata pepatah lama "Smile is the beginning of love." Demikian aku rasa.

Sejak hari itu, aku percaya kalau warna pelangi ke delapan itu benar-benar ada. Aku memandang warna itu di matanya. Matanya teduh serupa suasana malam sebelum hujan tiba. Andai bisa memilih, aku ingin menjadi bagian apa saja di tubuhnya, asalkan bukan air matanya. Air matanya terlalu mahal dan aku tahu tak akan ada jenis bahagia apapun yang mampu membayarnya.

Aku tidak tidak tidak tidak mencintainya. Aku sengaja menulis tidak empat kali agar kau buka lagi buku matematikamu bab negasi. Sederhananya lagi, aku sedang mengaguminya. Tidak berlebihan,  aku memilih mengagumi saja. Dan tentu pilihan itu sudah mengalami perhitungan panjang. Mengagumi adalah bentuk lain dari mencintai yang tidak melibatkan dosa. Mengagumi berarti juga berkontemplasi dalam cinta diam-diam yang tidak pernah melibatkan kehilangan. Mengaguminya adalah mengenai pilihan hidup dan semoga aku tak pernah menyesal pernah hidup dalam keterkaguman.

Suatu hari nanti, aku ingin ada seseorang yang menyandarkan kepalanya di bahuku, agar aku paham bagaimana nikmatnya berbagi beban. Suatu hari nanti, aku ingin ada seseorang yang tiba-tiba kupeluk dari belakang, agar aku paham bagaimana rasanya mendamaikan gemuruh dan debar di dalam dada. Entahlah siapa seseorang itu. Kelak, jika waktu memberiku banyak pilihan, aku hanya ingin perempuan itu yang menjadi subjek dalam kalimat-kalimat dalam tulisan ini. Namun, jika kelak waktu hanya melibatkanku dengan sakitnya kehilangan, alangkah baiknya aku hanya bercanda dengan segala jenis kekaguman ini.

Eki Lesmana

"Menjadi Tidak Tahu"

Kemarin siang ketika memesan Grab car dari Terminal Slipi, Jakarta, ternyata ada banyak sekali pengemudi yang berada di sekitar saya, demikian gambar yang saya lihat menurut aplikasi. Beberapa menit kemudian, salah seorang driver memutuskan mengambil pesanan saya menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta, tapi tiba-tiba si driver mengechat saya melalui aplikasi. "Mau ke Pasar Senen ya, Mas?" saya mengiyakan. Tidak lama kemudian ada telepon masuk, si driver menjelaskan panjang lebar bahwa intinya perjalanan menuju Stasiun Ps. Senen macet total karena ada acara pesta rakyat di Monas. Saya paham yang diinginkan si driver, dia berkata demikian karena tahu dari pengelamannya beberapa jam yang lalu mengantar penumpang menuju ke sana dan butuh waktu hampir dua jam. Luar biasa, padahal normalnya hanya sekitar 15 menit. Saya memaklumi lalu membatalkan pesanan. 

Saya coba pesan lagi. Harapan saya tentu semoga ada driver lain yang berbaik hati mengantar saya. Satu jam hampir berlalu, tak satupun driver yang mengambil pesanan itu. Saya sedikit kesal sebenarnya. Di antara rasa kesal dan kecewa yang berkecamuk itu, tiba-tiba seorang driver mengambil pesanan saya, jaraknya teramat jauh dari tempat saya berada karena yang lain sepertinya memang sengaja tidak mau mengambilnya. Tentu driver lain tidak mau membuang waktu dua jamnya hanya untuk mengantar saya larut dalam kemacetan, apalagi bila waktunya bisa digunakan mengantar orang lain yang baginya akan bermanfaat secara finansial. Pilihan itu jelas dan saya coba memahaminya.

"ke Stasiun Pasar Senen ya, Pak?" demikian saya memulai chat saya di aplikasi. Saya ingin memastikan bahwa si driver memang benar ingin mengantar saya terlepas dari macet atau tidaknya perjalanan menuju ke sana. Pak Driver mengiyakan,  sejurus kemudian kami sudah berada di dalam mobil larut dalam percakapan. Singkatnya Pak Driver tidak tahu bahwa perjalanan menuju ke stasiun memang macet total karena faktanya kami tiba disana butuh waktu sekitar satu setengah jam. Saya lihat wajahnya yang ikhlas lalu berterima kasih atas kebaikannya mengantarkan saya.

Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman itu adalah bahwa terkadang 'ketidak tahuan' itu juga dibutuhkan. Tidak tahu bukan berarti bodoh, tapi justru karena ketidak tahuan itu, seseorang kadang bisa berbuat baik dan bermanfaat untuk orang lain. Ketidak tahuan, seperti kata guru agama saya dulu, kadang memang sengaja diberikan Tuhan kepada hambanya agar ia tidak takut menjalani hidupnya sendiri, ia tidak tahu keburukan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan orang lain semenit ke depan, karena andai ia tahu, seseorang itu tidak akan berani keluar rumah dan akan selalu di dalam rumah menjadi anti sosial. Dalam konteks yang lebih luas, ketidak tahuan memang kadang lebih membuat orang lain merasa bermanfaat daripada seseorang yang merasa tahu segalanya tapi tak pernah membuat orang di sekekelilingnya merasa diterangi oleh cahaya ilmunya. Ketidak tahuan menuntut seseorang untuk mencari tahu, karena sejatinya menjadi tidak tahu itu anugerah. Dan menjadi seseorang yang tahu adalah amanah.

Eki Lesmana

*Ditulis 29 April 2018 dan baru sempat dimuat sekarang

"Menyalakan Lilin"

sumber gambar : google

Suasana yang tadinya sudah tegang tiba-tiba menjadi semakin tegang ketika saya mulai mengangkat tangan agar diizinkan untuk berpendapat. Di luar kelas tepat suara azan berhenti. Saya memulai pembicaraan. "Maaf Bu, bukan maksud saya untuk menilai siapa yang benar ataupun salah, bukan maksud saya pula untuk menengahi, karena saya tidak punya keahlian untuk kedua hal itu, saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya secara pribadi. Dan pendapat saya bisa saja salah bisa saja benar tergantung sudut pandang kita." teman-teman nampak mulai serius menatap saya di kelas.

Pembicaraan itu saya mulai karena sebelumnya seorang pengajar, Bu Mus namanya, menyampaikan sebuah permasalahan di kampus. Permasalahan ini terkait dengan anak bimbingnya mengenai Tugas Akhir. Konon, Ucok dan Umang telah membuat pembimbingnya teramat geram dan memutuskan untuk undur diri sebagai pembimbing mereka. Masalahnya cukup serius, mereka memalsu tanda tangan Bu Mus dalam 4 form penting termasuk tanda tangan untuk revisi proposal Tugas Akhir. Dan tentu mereka akan mendapat hukuman tegas dari kampus. 

Awalnya saya menyetujui semua yang dikatakan bahwa tindakan yang dilakukan Ucok dan Umang memang termasuk tindak kriminal yang teramat serius. Karena menurut KUHP tindakan mereka bisa saja mendapat hukuman 6 tahun penjara. Saya memahami situasi ini dan maklum atas keputusan Bu Mus untuk mengundurkan diri. Tentu saja alasannya karena kecewa berat. Saya mencoba berempati.

Namun semakin lama apa yang disampaikan Bu Mus semakin cenderung menyerang secara personal kepada Ucok dan Umang. Saya mulai tidak nyaman dengan obrolan itu. "Ucok dan Umang memang alim, pintar, juga pendiam tapi bagi saya semua anggapan itu sudah berubah. Mereka seperti penjahat kelas kakap. Memang banyak orang di dunia ini yang pintar. Tapi kita tidak tahu dia pintar dalam hal apa. Bisa jadi pintar nipu." Demikian Bu Mus meneruskan percakapan itu. Saya semakin tidak nyaman.

Saya meneruskan pembicaraan tadi. "Saya termasuk kawan yang juga turut mengikuti proses Ucok dan Umang hingga sejauh ini. Mulai tahap sidang proposal dan sampai di tahap revisi sejauh ini. Saya menghargai mereka karena saya tahu mereka saat itu kesulitan mendapat judul dan sampai pada tahap ini adalah sebuah pencapaian yang patut diapresiasi. Saya juga tahu keadaan Ibu saat itu juga sedang drop dan tentu menunggu judul yang sudah dijanjikan oleh pembimbing hingga jelang sidang proposal bukanlah hal yang mudah."

"Saya mencoba berempati kepada Ibu juga kepada mereka. Saya sangat setuju apabila Ibu menyalahkan mereka karena tindakannya, karena saya juga mengutuk perbuatan itu. Tapi maaf Bu, saya tidak bisa menerima apabila Ibu menyerang mereka secara personal dengan mengatakan hal-hal seperti yang Ibu katakan tadi." Kelas semakin lengang dan fokus menatap saya. Ucok dan Umang turut memperhatikan. 

"Kita bisa lihat tembok di depan kita, apabila tembok ini pertama kali dibangun oleh tukang bangunan dan ada satu batu bata saja yang miring tentu kita akan langsung menyalahkan si tukang itu. Wah tukangnya gak pinter nih, tukangnya udah dibayar mahal-mahal tapi gak becus. Barangkali seperti itu sikap kita. Tapi kita lupa satu hal bahwa diantara satu batu bata yang miring itu masih ada ratusan batu bata yang berdiri kokoh. Kita terlalu fokus pada keburukan orang lain hingga lupa pada kebaikan yang semestinya diapresiasi." demikian saya melanjutkan.

"Alangkah baiknya kalau Ibu menyampaikan pendapat yang apabila ditujukan secara personal disampaikan empat mata saja. Karena menurut saya menjelek-jelekkan seseorang di depan umum bukanlah hal yang bijak. Kalau toh sebagai pengalaman agar tidak terulang lagi maka cukup mengutuk perbuatannya tidak perlu pada personalnya." Saya fokus menyampaikan pendapat pada Bu Mus.

Sejurus kemudian Bu Mus menyanggah menyampaikan apa-apa yang menurutnya benar. Saya paham itu, beliau terlalu kecewa dan sampai pada tahap membenci. Apakah pendapat dan saran saya ditolak mentah-mentah? Entahlah saya tidak paham itu. Seperti kata John F Kennedy, alangkah baiknya sebagai manusia kita menyalakan satu lilin daripada mengutuk kegelapan. Karena mengutuk gelap tak akan merubah apapun, namun menyalakan satu lilin akan menerangi kegelapan-kegelapan itu. 

Eki Lesmana

*cerita ini mungkin saja sama dengan kejadian-kejadian kecil di sekitar kita, maaf apabila ada kesamaan nama. 

Senin, 08 Januari 2018

"BUKIT CUMBRI"

Matahari mulai terbenam di ufuk senja. Sepertinya ini terlalu sore, pikir saya senja itu. Sementara dari balik handphone berkali-kali telepon masuk dari Ali (@alisaifudin_) yang tidak sempat saya angkat. Hari itu saya disibukkan dengan job dari pagi hingga sore hari. Azan maghrib berkumandang, terdengar dari masjid-masjid di Kota Malang. Matahari semakin menutup diri. Saya memutuskan segera pulang ke kos untuk membersihkan diri, packing, dan bersiap-siap untuk berangkat untuk menjemput Ali di Krian, Sidoarjo.

Perjalanan ini saya mulai dari Kota Malang dengan beberapa lelah bercampur kantuk yang masih berkecamuk di dalam diri. Selepas maghrib saat jalanan di kota ini mulai lengang, saat wajah-wajah lelah para pencari kerja mulai merindukan keluarganya di rumah, saya berangkat menuju rumah Ali. Waktu menunjukkan pukul 20.30 WIB saat saya melihat wajah ceria Ali di dekat rumahnya.

Belum lama berkendara di atas motor, hujan tiba-tiba membasahi jalanan yang masih penuh dengan kepul asap kendaraan. Kami berhenti sejenak, mencari musholla untuk melaksakan kewajiban sholat Isya sambil menunggu hujan reda. “Berangkat jam berapa, Mas?” Saya lihat HP Ali menyala dengan sebuah chat atas nama Mas Jalod (@jal_od). Ya, Mas Jalod adalah kawan baru yang akan kami kunjungi di Kota Ponorogo sana yang kami kenal melalui Instagram. Di bayangan saya mendengar nama Jalod adalah seseorang anak kota yang keren berwajah tua dan galak, saya menerka-nerka saja dan semoga tebakan saya itu keliru.

Satu jam berlalu, pukul 21.30 WIB hujan berhenti. Jalanan tampak ramai lagi oleh kendaraan-kendaraan berplat W milik Sidoarjo. Dan ini menandakan bahwa kami harus berangkat lagi menempuh perjalanan 190 Km. Mungkin perjalanan ini akan terasa melelahkan, tapi saya percaya satu hal bahwa sebuah destinasi yang indah selalu butuh usaha yang melelahkan pula. Dan semoga saat tiba disana kalimat itu benar adanya.

Baru 45 menit berlalu rasa kantuk sudah menyerang saya. Ali yang sedari tadi saya bonceng saya pastikan tidak mengantuk untuk bergantian membonceng saya. Bukannya tambah mengantuk saat dibonceng, adrenalin saya rasanya terpacu dengan kecepatan motor yang dikendalikan oleh Ali. Saya was-was dan takut apalagi jalanan di sepanjang kota Jombang menuju Madiun sedikit sekali penerangan, ditambah lagi banyak truk-truk besar, dan banyak lubang yang tidak terlihat oleh lampu-lampu kendaraan. Perasaan saya benar, 15 menit mengendarai motor, kami mengenai lubang besar di jalanan, ban belakang saya tiba-tiba kempes. Ini pasti bocor, begitulah pikiran saya saat itu. Untungnya ali bisa mengendalikan motor sehingga tidak terjatuh dan pelan-pelan menepi ke pinggir jalan.

10-15 menit berikutnya kami habiskan untuk mencari tambal ban. Siapa juga tukang tambal ban yang buka jam segini? Batin saya berkecamuk sendiri. Untungnya di salah satu tambal ban yang tutup terdapat nomor telepon yang bisa saya hubungi. Kami berada disana sejenak sambil istirahat hingga pukul 23.30 WIB. Lama? Iya ban belakang saya sobek dan bocor agak banyak. Mungkin ini salah satu cara Tuhan agar kami beristirahat sejenak.

Pukul 03.00 kami sampai di Ponorogo dan saya kabari Mas Jalod melalui WA. Kami dijemput dan setengah jam kemudian kami sampai di rumahnya setelah melewati jalanan yang gelap tanpa lampu, berlubang, dan sepi. Saat sampai di rumahnya barulah saya bisa mengetahui wajah Mas Jalod secara detail. Dugaan saya sebelumnya tak ada yang benar dan berbeda 180 derajat. Mas Jalod adalah pemuda berkulit putih yang perawakannya ideal dengan tinggi rata-rata.

Rumahnya sederhana, beberapa tampak belum jadi. Di depan ada gundukan pasir. Saat saya tanya untuk apa, ternyata untuk bahan baku membuat batako. Kami istirahat di ruang tengah, suguhan kopi yang diberikan tak kami minum. Kami mengantuk berat. Tidur sejenak dan harus bangun lagi 04.30 WIB untuk menuju destinasi yang ingin kami kunjungi. Bukit Cumbri. Kami akan datang.

       “Mas, bangun mas. Ayo berangkat” suara itu membangunkan kami. Saat saya melihat jam ternyata sudah pukul 04.30 WIB. Kami pun segera bersiap-siap lalu berangkat beberapa menit kemudian.

        Pagi masih gelap dan dingin. Motor kami menerabas ke sawah-sawah dan jalanan berbatu. Sepertinya ini jalan pintas, pikir saya. Setengah jam kemudian kami sampai di Bukit Cumbri, Wonogiri, Jawa Tengah. Kami parkir sepeda. Saat saya ajak untuk naik bersama, Mas Jalod dan temannya Mas Tesar menolak. “Maaf mas, kami belum tidur semalaman menunggu mas datang.” Katanya dengan disertai wajah yang teramat mengantuk. Saya yang kasihan mengiyakan dengan perasaan agak bersalah. Sayang sekali, kami tidak bisa berfoto bersama.

         Kami (aku dan Ali) menaiki bukit untuk menuju puncak. Batu-batuan kapur berwarna putih kecoklatan menyambut kami. Pohon-pohon hijau di sekitarnya tampak melambai-lambai agar kami segera naik. 20 menit kemudian kami sudah di puncak Cumbri. Kami kaget. Monyet-monyet melompat kesana kemari. Untungnya monyet-monyet ini tidak buas.

       
Sunrise di Bukit Cumbri
      Tidak lama kami berada di puncak Matahari di Timur tampak memesona. Guratan langit berwarna kemerahan seolah mengatakan bahwa selain melelahkan bahagia bisa didapatkan dari hal-hal yang sederhana, melihat matahari terbit di puncak cumbri, misalnya. Sungguh indah. Bukit-bukit tampak berbaris di selatan, sebagian tinggi sebagian rendah seperti gelombang panjang yang saya pelajari sewaktu SMA. Lebih jauh lagi ke selatan tampak pula bukit-bukit berwarna biru yang tampak memesona dengan kabut tipis. Ke utara sedikit matahari merekah kemerahan. Di bawah bukit-bukit itu tampak tumbuhan hijau dimana-mana dan beberapa pemukiman warga. Dari atas sini kami bisa melihat perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, Ponorogo dan Wonogiri.

Salah satu monyet yang habis saya lempari roti

       2 jam kami habiskan untuk memotret pemandangan disana. Beberapa kali monyet-monyet mendekat saat saya beristirahat dan makan roti. Saya tahu mereka pasti lapar. Saya lempari beberapa cuil roti sampai habis. Sebagian yang tak mendapat roti terlihat kesal, tapi tak sampai menjadi buas. Lain kali kalau saya datang lagi, akan saya bawakan makanan untuk mereka.

tampak Ali berdiri di atas batu

Ali berdiri lebih tinggi

lelah, akhirnya Ali memutuskan untuk duduk

Saya juga lelah, akhirnya duduk juga motret kaki

         Kamipun menuruni bukit. Lelah kami terbayar dengan keindahan yang tak akan mampu dibayar dengan harga berapapun. Lukisan Tuhan yang sungguh luar biasa. Saat kami tiba di parkiran sepeda Mas Jalod dan Mas Tesar masih tertidur pulas. Kami membangunkannya perlahan. Mengopi, makan gorengan tempe, juga mengobrol sejenak.

         “Tiga ribu mas per sepeda” kata bapak tukang parkir. Dari situ saya paham bahwa menuju ke bukit cumbri begitu murah, tanpa tiket masuk. Hanya membayar parkir saja. Setelah membayar kamipun kembali menuju rumah Mas Jalod.

         Di perjalanan menuju rumah Mas Jalod kami berhenti sejenak di warung makan. 4 piring penuh nasi dan sayur pecel terhidang di depan kami disertai 2 tempe daun per piringnya. Tempe daun adalah tempe yang difermentasi dengan cara dibungkus menggunakan koran ataupun daun. Tempenya tipis namun sangatlah besar dan lebar. Digoreng dengan tepung dan saat dimakan akan terasa bunyi “kriuk”. “Berapa ini mas satu piring?” saya bertanya penasaran karena melihat begitu banyak satu porsi. “3 ribu mas” kata Mas Jalod santai sambil makan pecel. “Murah ya, Mas?” katanya lagi memastikan. Bukan hanya murah, bahkan saya tidak habis memakannya. Lihatlah terlalu banyak hingga perut saya tidak kuat.

        Setelah sarapan kami kembali menuju rumah Mas Jalod, membersihkan diri, beristirahat sejenak, dan bersiap-siap berangkat lagi siang nanti menuju ke Karanganyar, Jawa Tengah. Akan saya ceritakan di Judul yang lain agar tulisan ini tidak terlalu panjang. Terimakasih sudah membaca.