Minggu, 06 Mei 2018
"Hakikat Mencintai"
Sumber foto : instagram @artcologi
Pagi masih belia, aku baru sampai di ruangan training center di PT. Lotte Cilegon, Banten, untuk melaksanakan kewajiban dari kampus. Tiba-tiba seorang perempuan memanggilku dari ruang sebelah. Nadya namanya. Aku berkenalan dengannya beberapa hari yang lalu. Wajahnya cantik, namun kepribadiannya cenderung ceplas ceplos. Barangkali hal itu yang menjadikan kami akrab satu sama lain.
Suara mesin berderu dan bersahutan terdengar di luar sana. Kami sedang duduk berhadapan satu sama lain di sebuah ruangan yang tak jauh dari mesin-mesin itu. "Aku ingin cerita Kik, entah kenapa aku ingin ceritanya sama kamu" katanya perlahan. Kutatap matanya dalam-dalam, tampak ada kesedihan yang ingin sekali dirayakan bersama seseorang dan pagi ini ia memilih merayakannya bersamaku.
"Cowok aku tuh, akhir-akhir ini semakin protektif. Ya tahu sendirilah dulu aku kan suka main kesana-sini, temenku juga banyak cowok disana-sini apalagi kalau main ke gunung pasti dapat temen-temen baru yang asyik." dia memulai ceritanya. Aku hanya diam mengamati caranya bercerita dan memahami dengan hati-hati setiap apa yang keluar dari mulutnya. Aku paham perempuan itu sensitif dan mudah tersinggung. Semua lelaki juga tahu itu.
"Masak aku gak boleh nyimpen nomor cowok sama sekali di hapeku, kamu aja kemarin nge-WA gak aku bales kan, aku takut dia marah sama aku." dia melanjutkan ceritanya. Di bagian ini aku penasaran dan ingin bertanya memastikan
"emang hapemu di bawa sama cowokmu?"
"Gak sih Kik, cuman dia kayak nyadap gitu, ada WA aku di PC nya dia." dia berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam lalu melanjutkan kisahnya.
"tapi sebaliknya, kalau dia mah gak mau dilarang, temennya juga banyak cewek, di hapenya juga pernah kutemuin chat sama cewek lain. Tapi chatnya yang dulu-dulu keburu dihapus. Gimana gak sakit hati coba. Aku dilarang-larang dianya sendiri minta bebas."
Tiba-tiba Nadya berhenti sejenak lalu melanjutkan ceritanya sambil kulihat ada sesuatu paling mahal yang perlahan keluar dari matanya.
"Apalagi kemarin dia bilang aku cuman minta bahagia aja, gak mau susah bareng dia. Padahal mah aku selalu ada buat dia, nanyain dia bagaimanapun keadaanku. Tapi dia sendiri gak pernah kayak gitu ke aku. Sakit tau." suaranya serak. Tangannya tampak menyeka air matanya perlahan. Kurasakan ada kesedihan mendalam yang terlalu lama ia pendam sendiri. Dan hari ini ia memilih menggali perasaan sakit itu untuk diketahui oleh orang lain. Aku menghargai itu.
Aku tiba-tiba teringat 6-7 tahun lalu ketika aku masih memiliki seorang perempuan. Tuhan seakan ingin menamparku dan kembali mengingatkan bahwa aku dulu juga sama seperti lelaki itu. Dulu aku terlalu protektif dan pencemburu keterlaluan. Dan aku baru sadar beberapa tahun belakangan kalau itu terlalu kekanak-kanakkan. Pagi ini Tuhan sedang menghidangkan sebuah sarapan dalam sebuah ruang kepala bernama kenangan. Orang yang mengalami boleh saja berbeda tetapi kisahnya kurang lebih persis sama.
Aku pelan-pelan menegakkan tempat duduk. Kulihat airmata Nadya perlahan kering dan raut wajahnya masih tampak sedih. Aku memulai menanggapi cerita Nadya dengan menceritakan kisahku dulu.
"Baiklah, sebenarnya semua tergantung persepsi masing-masing orang dan kali ini aku akan menanggapi ceritamu dari sudut pandang sebagai lelaki." Nadya tampak serius menyimak.
"Aku dulu kurang lebih sama seperti cowokmu. 7 tahun lalu aku masih SMA dan masih awam tentang mencintai dan dicintai. Aku terlalu protektif saat itu dan kadang sakit hati sendiri saat cewekku melakukan hal-hal yang kularang. Tapi maaf sepertinya di usia kita yang saat ini sudah kepala dua, aku pikir itu sudah tidak penting lagi. Mencintai di usia ini berarti serius menjalin hubungan dua hati dan dua keluarga, bukan hanya cinta-cintaan saja seperti aku dulu."
"Aku paham kalau apa-apa yang dilarang cowokmu itu adalah sebagai bentuk menjaga agar kamu tidak berpindah ke lain hati. Aku juga paham kalau cowokmu mudah cemburu. Benar kata sebagian orang bahwa cemburu adalah sebagai salah satu bukti kalau kita memiliki rasa mencintai. Tetapi tidak di usia sekarang, Nad. Kita bukan anak SMA lagi. Jauh dari pada itu kalian cuma pacaran bukan berada pada hubungan serius yang mengikat seperti pernikahan. Aku tidak menyalahkan cowokmu, juga tidak menyalahkan kamu. Mungkin cowokmu melakukan itu dengan alasan lain dan aku tidak tahu itu." Aku berhenti sejenak. Menahan napas lalu mengeluarkannya pelan-pelan. Bahasan ini agak berat apalagi faktanya saat ini aku tidak punya pacar. Dan aku tahu itu soal lain lagi.
"Aku sebenarnya gak tahu kamu harus gimana, yang tahu semuanya adalah kamu dan cowokmu sendiri. Kalianlah yang akan menentukan bagaimana hubungan kalian ke depan. Kamu yang paling paham lebih banyak baik atau buruknya hubungan kalian. Kalau yang kalian jalani saat ini lebih banyak baiknya silakan lanjutkan hubungan itu dengan lebih serius ke jenjang selanjutnya, jangan terlalu lama. Sebaliknya, kalau kamu tahu hubungan kalian lebih banyak buruknya silakan akhiri saja lebih cepat daripada kamu terlalu dalam mencintai namun pada akhirnya tidak sampai pada tahap dinikahi." aku menjawab demikian ketika Nadya bertanya bagaimana dan apa yang seharusnya ia lakukan selanjutnya.
Aku melanjutkan ceritaku dengan meyakinkan Nadya mengenai takdir Tuhan.
"Percaya deh Nad sama aku, kalau Tuhan itu terlibat dalam setiap tindakan dan apapun yang kita lakukan. Kalau kamu pernah menonton film 'Serendipity' kamu akan tahu bagaimana Tuhan berperan. Jonathan dan Sara yang tidak sengaja bertemu karena ingin membeli sebuah kaos kaki yang stoknya tinggal satu kemudian berakhir menjadi sebuah makan malam di sebuah rumah makan bernama 'Serendipity'. Jon meminta nomor Sara untuk meyakinkan bahwa mereka berjodoh, namun Sara menolak hal itu dan menuliskan nomor hapenya pada sebuah buku yang akan ia jual keesokan harinya dan menyuruh Jon untuk mencari dan membeli buku tersebut pada seluruh Kota. Sementara Jon menulis nomornya pada sebuah uang kertas yang dibelanjakan sara kepada sebuah toko. Sara yakin kalau mereka berjodoh maka pada waktunya nomor tersebut akan datang dengan cara-cara tak terduga. Beberapa tahun berlalu namun Jon dan Sara tak pernah menemukannya."
"Pada akhir film itu, ketika Jon hendak menikahi seorang perempuan tiba-tiba ia membatalkannya karena semalam sebelum pernikahan itu, calon istri Jon memberikan hadiah sebuah buku yang mana di dalamnya ternyata terdapat nomor Sara. Sementara Sara mendapatkan uang yang bertuliskan nomor Jon saat berada di dalam pesawat. Dan pada akhirnya mereka bertemu kembali dengan cara yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Aku tak ingin menjelaskan film itu terlalu detail, tapi lihatlah bagaimana Takdir menyatukan mereka. Dan kita harus percaya itu, bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya."
Nadya tampak takjub mendengar kisah itu sebelum pada akhirnya ia bertanya satu hal penting lainnya. "Bagaimana kalau aku gak bisa ngelupain dia, Kik?"
"Bisa, Nad. Aku yakin kamu bisa. Semuanya kembali kepada hati kamu sendiri. Kita harus ingat bahwa semua yang kita miliki juga akan hilang dan pergi. Kita tak sepantasnya merasa memiliki sesuatu karena pada hakikatnya semua akan kembali kepada sang pencipta." kata-kata itu sepertinya mulai menenangkan kegelisahan dalam hati Nadya.
"Aku ingat sebuah kisah cinta ulama tersohor di negeri ini, Buya Hamka namanya. Beliau adalah imam besar di zaman kemerdekaan Indonesia. Beliau juga yang menjadi imam dikebumikannya presiden pertama Indonesia." demikian aku memulai kisah itu.
"Buya Hamka sangat mencintai istrinya bahkan sampai berpulangnya sang istri kepada yang maha kuasa. Kadang kenangan bersama istri tiba-tiba datang menghampiri beberapa tahun setelah meninggalnya sang istri. Irfan Hamka, anak dari Buya Hamka kadang mengetahui itu dan kegiatan sang ayah ketika sedang merindukan istrinya. Dalam buku berjudul 'Ayah' yang ditulis Irfan, Buya Hamka sering melakukan sholat taubat ketika kenangan bersama istrinya muncul tiba-tiba, karena Buya takut berdosa apabila terlalu mencintai istrinya sampai-sampai melupakan Allah yang maha menghidupkan dan mematikan hambanya. Demikian dengan kita, kita harusnya mencintai seseorang sewajarnya saja karena kecintaan kepada manusia bisa hilang sewaktu-waktu tapi cinta kepada Allah adalah keabadian yang semestinya kita jaga." Aku mengakhiri tanggapanku atas cerita dan pertanyaan Nadya. Kulihat wajahnya tampak lebih tenang dan kesedihan itu perlahan-lahan hilang dengan selengkung senyuman yang ia berikan.
Eki Lesmana
PS : Cerita ini ditulis di dalam bus pada 9 April 2018 sewaktu perjalanan pulang dari PT Lotte menuju ke rumah kontrakan di PCI yang berjarak 30 menit. Cerita ini bisa juga tidak sama persis karena keterbatasan ingatan saya tetapi kurang lebih sama. :)
"Bertukar Pikiran"
Kemarin pagi selepas sholat dhuha di musholla seorang lelaki tiba-tiba menghampiri saya.
"Dari mana Mas?"
"Malang pak"
"Kota apel itu ya?"
"enggeh Pak, benar"
Kami diam sejenak, saya tatap wajahnya, tampak ada sesuatu yang sepertinya ingin dibagi kepada orang lain.
"Anak saya sama usianya seperti mas. Anu Mas, dia itu ingin kuliah" beliau memulai kisahnya.
"Bagus dong Pak" kata saya.
"Iya bagus sih Mas. Dia sudah kerja di salah satu perusahaan di daerah sini dan memang dia bisa membiayai kuliahnya sendiri."
"Tambah bagus lagi itu Pak, semangat pemuda seperti anak bapak yang haus akan ilmu perlu ditiru." Saya mengapresiasi.
Sebelum pada akhirnya si Bapak menjelaskan panjang lebar bahwa ada ketakutan yang berkecamuk dalam dirinya kalau anaknya kuliah tapi tidak serius dengan apa yang akan dijalani. Beliau takut kalau ternyata anaknya kuliah hanya karena gengsi atau ikut-ikutan saja. Saya sadar betul dan memahami ketakutan itu. Sementara di sisi lain beliau takut kalau saja anaknya lulus ijazahnya tidak akan berguna untuk jenjang karier dalam pekerjaannya. Beliau tahu bahwa kalau ingin anaknya naik kariernya harus keluar dulu dari perusahaan tersebut dan masuk lagi dengan banyak tahap tes dengan ijazah terakhir yang di dapat. Saya paham itu tidak mudah dan ketakutan itu wajar adanya.
Saya tidak bisa menyarankan banyak hal, apalagi yang dikatakan beliau benar dan tidak bisa saya bantah.
"Begini, Pak. Saya tahu ketakutan yang bapak alami juga dialami banyak orang tua di luar sana." demikian saya memulai lagi percakapan itu.
"Saya juga paham anak Bapak tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya untuk turut membiayai kuliahnya. Barangkali begitulah alasan dia bekerja dulu dan ingin kuliah ketika waktunya tepat. Dan bagi dia, mungkin saja ini adalah saat yang tepat. Tidak banyak anak yang bisa seperti anak bapak yang ingin melanjutkan kuliah apalagi sudah bekerja di salah satu perusahaan besar. Ada rasa malas karena sebagian berpikir untuk apa kuliah toh sudah dapat uang banyak?" beliau menatap saya serius.
"Mengenai karier anak Bapak, tentu yang bapak ceritakan itu benar dan saya tidak bisa memungkiri itu. Tapi kita harus percaya Pak, tidak ada ilmu yang kita tempuh dengan sungguh-sungguh akan berakhir percuma dan sia-sia. Boleh jadi saat ini belum bermanfaat untuk jenjang kariernya, tapi suatu saat nanti bisa saja membuat karir anak Bapak menjadi tinggi. Apa sulitnya buat Allah? Mudah sekali, toh Allah maha segala-galanya." tiba-tiba suara adzan dhuhur berkumandang seakan mengingatkan bahwa Allah memang maha besar dan maha segalanya. Ada ketenangan baru dalam wajah si Bapak.
Tak terasa sudah hampir satu jam kami bertukar pikiran. Sebenarnya saya yang lebih banyak mendapat ilmu baru dan beberapa pertanyaan dalam diri : Apakah nanti saya bisa memiliki kekhawatiran yang sama untuk anak-anak saya seperti yang Bapak itu rasakan? Siang ini beliau telah memberikan contoh yang baik juga pelajaran yang tak ternilai harganya. Di sisi lain saya tidak bermaksud menggurui atau menasihati beliau. Saya hanya ingin berpendapat sesuai yang saya ketahui meski bisa jadi apa yang saya sampaikan salah. :)
Selepas sholat saya melihat Bapak itu khusyuk dalam doa-doanya.
Eki Lesmana
*Ditulis pada 13 April 2018
"Isra Mi'raj"
Isra mi'raj adalah peristiwa agung dan istimewa dalam agama islam yang diabadikan dalam Al-Quran. Isra mi'raj berarti mengimani perjalanan menakjubkan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsho juga Sidratul Muntaha. Isra mi'raj berarti menyediakan waktu dalam diri untuk berkontemplasi mengenai sholat 5 waktu sebagai bentuk perintah wajib beribadah. Isra mi'raj juga berarti memperingati perjuangan kaum muslimin merebut kembali Masjidil Aqsho, tempat Nabi singgah sebelum naik ke sidratul muntaha.
Isra mi'raj adalah mengenai keimanan, renungan, juga perjuangan. Isra mi'raj tidak sepantasnya hanya diperingati sebagai tanggal merah yang niscaya terjadi setiap tahun. Isra mi'raj tidak seharusnya hanya menjadi repetisi belaka untuk mengisi hari libur dengan tidur-tiduran dan bersantai-santai di atas empuknya kasur. Isra mi'raj lebih dari itu dan kami bukanlah bagian orang-orang yang demikian. Kami adalah generasi yang melakukan penelitian-penelitian ilmiah untuk membuktikan kebenaran yang mustahil dijelaskan oleh akal sebagai bentuk keimanan pada Isro dan mi'raj. Kami adalah generasi yang senantiasa datang dari satu tempat ke tempat lain untuk berguru pada seseorang guna mendalami ilmu-ilmu agama sebagai bentuk renungan tentang hakikat pencipataan manusia yang sebenarnya. Kami adalah orang-orang yang gemar membaca dan memelajari sejarah lalu mengamalkannya sebagai bentuk perjuangan untuk kebaikan di masa depan. Di hari ini masjid-masjid akan kami penuhi dan doa-doa akan lebih khusyuk kami panjatkan untuk negeri kami, negeri-negeri muslim dan khususnya yang sedang mengalami penjajahan juga penindasan, meski pada dasarnya kami tahu berdoa bisa kapan dan dimana saja.
Selamat memeringati Isra dan Mi'raj teruntuk saudaraku kaum muslimin dimana saja. Jika ada orang-orang yang menganggap Isra Mi'raj adalah fiktif belaka maka sekaranglah saatnya kita tunjukkan dengan kebaikan-kebaikan yang kita punya. Satu kebaikan seseorang sudah cukup mewakili golongan yang lebih besar. Dan konon katanya satu tindakan baik lebih dihargai daripada seribu kata-kata ilmiah.
Eki Lesmana
*Ditulis pada saat isra mi'raj 14 April 2018
"Pacar Puitis atau Biasa?"
Pilihlah pacar yang puitis juga romantis, jangan yang biasa-biasa saja. Tidak enak, hambar, tidak manis juga tidak asin.
Berikut adalah perbedaannya :
Kekasih biasa : "aku tidak bakalan lupa sama kamu"
Kekasih puitis : "entah nanti aku kau lupakan atau tidak. Yang jelas saat ini aku sedang mengingatmu"
.
.
Kekasih biasa : "buat aku kamu itu yang pertama dan terakhir."
Kekasih puitis : "yang pertama atau terakhir? Bagiku kau adalah keduanya. Titik!"
.
.
Kekasih biasa : "selamat malam semoga mimpi indah"
Kekasih puitis : "Tidurlah. Kau tak butuh selimut, hanya butuh hangat peluk dan doa-doaku. Selamat malam."
.
.
Kekasih biasa : "Duh, senyummu itu manis kayak gula!"
Kekasih puitis : "Dilihat dari jarak sejauh apapun, caramu tersenyum tetap saja mengagumkan. Ternyata memang benar, Tuhan menyukai keindahan. "
.
.
Kekasih biasa : "Sayang, jangan lupa sholat, ya!"
Kekasih puitis : "Jangan lupa melibatkan Tuhan entah bagaimanapun bentuknya. Maka semestinya kau dan aku saling mendoakan dalam tengadah tangan masing-masing."
.
.
Kekasih biasa : "Dingin banget ya malam ini, peluk dong"
Kekasih puitis : "Apa kita harus percaya pada gigil? Sementara di tubuhmu aku menemukan hangat yang tak mampu dihitung pengukur suhu manapun"
.
.
Kekasih biasa : "kalau habis lihat kamu itu rasanya sejuk"
Kekasih puitis : "Beberapa perempuan diciptakan sebagai penyejuk berbagai jenis panas. Dan kau yang membaca ini adalah salah satunya."
.
.
Kekasih biasa : "semangat ya kuliahnya, selamat hari senin. Ku sayang kamu."
Kekasih puitis : "Senin lagi. Dan mencintaimu masih menjadi rutinitas yang belum pernah membosankanku."
.
.
Kekasih biasa : "selamat menikmati hari minggu"
Kekasih puitis : "Minggu pagi sengaja hadir agar kita bangun lebih siang. Ternyata benar, memikirkanmu semalaman memang butuh tidur yang cukup."
Eki Lesmana
"Kartini"
Perempuan itu menangis setiap pagi. Wajahnya tampak sedih, marah, dan kecewa, semuanya berbalut menjadi satu. Alasannya sederhana, ia merasa gagal mendidik anaknya yang saat itu enggan untuk memasuki TK di usia 5 tahun. Hingga 2 tahun berlalu, bocah kecil itu juga tidak ada niat sedikitpun untuk pergi ke sekolah.
Suatu ketika perempuan itu datang menemui kepala sekolah di sebuah SD. Ia ingin anaknya diterima tanpa duduk di bangku TK, tentu tanpa tes juga, karena jelas bocah kecil itu tidak bisa membaca dan menulis. Karena kebaikan hatinya, akhirnya bocah kecil itu bisa bersekolah disana. Setiap pagi dengan tangis gemetar dan linangan air mata perempuan itu mengantar anaknya pergi ke sekolah. Pasalnya, bocah kecil itu tidak akan pergi ke sekolah jika tidak ditemani perempuan itu. Ia akan memilih tidur, pura-pura sakit atau alasan apa saja yang bisa membuatnya tetap berada di dalam kamar. Dan ini berlangsung lama, 4 tahun. Ya kamu tidak salah baca. Selama itu bocah kecil tersebut diantar oleh perempuan itu hingga duduk di bangku kelas 4 SD. Apakah ini memalukan baginya? Entahlah tidak ada yang pernah tahu perasaannya.
Perempuan itu adalah Ibu saya. Jika ada sosok yang bisa saya sepadankan, maka ibu adalah Kartini bagi saya, yang jika saja saat itu tidak bersikeras sekuat tenaga menyekolahkan saya, barangkali tulisan ini tak pernah kamu baca. Ibu saya memang tak pernah lulus SD, tapi melihat kekuatan dan ketabahannya untuk menyekolahkan anaknya melebihi batas terakhir pendidikannya adalah kemerdekaan baginya juga bagi kami, anak-anaknya. Ibu saya juga mungkin tak pernah hafal UUD 1945 alinea ke empat tentang cita-cita Indonesia 'mencerdaskan kehidupan bangsa' tapi melalui lakunya telah tercermin nilai-nilai itu. Ibu saya juga tak pernah mengenal apa itu instagram, facebook, ataupun whatsapp untuk media berkomunikasi karena beliau gaptek teknologi, tapi melalui doa-doanya saya bisa merasa selalu terhubung kapanpun dan dimanapun berada. Ibu saya juga tidak pernah membaca buku 'habis gelap terbitlah terang' tapi melihat semangatnya, saya bisa memetik nilai-nilai kehidupan dari buku itu.
Hingga suatu saat nanti kamu membaca tulisan ini, kapanpun itu, bagi saya, Ibu tetaplah Kartini yang semangatnya tak pernah terkikis oleh waktu. Selamat hari Kartini.
Eki Lesmana
*Ditulis pada 21 April 2018
*Ditulis pada 21 April 2018
"Selamat Hari Kartini"
Tulisan ini mungkin saja klise, tapi saya ucapkan terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membacanya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa R.A. Kartini meninggal di usia 25 tahun, 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya. Sungguh di luar dugaan, perempuan yang di masa itu memiliki banyak cita-cita mulia harus undur diri dari dunia. Bagi saya beliau luar biasa. Usianya memang tidak panjang, tapi lihatlah jasanya tetap terkenang sepanjang masa.
Dulu di masa penjajahan Belanda 1900-an, nasib kaum perempuan jawa sungguh mengenaskan. Rumah mereka sendiri adalah penjara, karena konon mereka tidak boleh mengenal kehidupan luar. Di satu sisi, ketika ada lelaki yang meminangnya, mau tidak mau mereka harus bersedia entah baik atau buruknya lelaki itu. Mereka hidup dalam ketakutan akan dunia, mereka juga tidak berpendidikan, karena tidak ada sekolah untuk perempuan.
Maka, sosok perempuan seperti Kartini saat itu adalah cerita lain. Kartini menembus batas-batas itu. Baginya, asal bisa menulis maka suaranya bisa didengar sampai ke negeri-negeri seberang. Melalui surat-suratnya ia sampaikan kekhawatiran akan masa depan kaum perempuan. Jika kamu pernah mendengar "Seorang ibu haruslah berpendidikan tinggi, karena anaknya harus lahir dari rahim ibu yang cerdas." Itulah cita-cita Kartini yang saat ini sedang kita nikmati bersama. Itu pula ungkapan Kartini dalam bukunya yang kini telah dimaknai banyak orang dalam tulisan-tulisan yang kurang lebih sama maknanya. Kartini sesungguhnya adalah pejuang melalui tulisan juga kata-kata. Maka jangan pernah meremehkan kata-kata.
Saya yakin masih banyak perempuan seperti Kartini di zaman ini. Jika ia adalah seorang ibu yang tidak lulus SD namun mampu menyekolahkan anaknya melebihi batas terakhir pendidikannya, ialah Kartini. Jika ia adalah seorang mahasiswi yang melalui jurnal-jurnal penelitiannya mampu bermanfaat bagi kehidupan orang lain, ialah Kartini. Jika ia adalah seorang anak yang turut membahagiakan orang tuanya dengan merapikan kamar selepas bangun tidur atau mencuci piring setelah makan, ialah Kartini.
Kartini di zaman ini bisa jadi berbeda perjuangannya. Kartini di zaman ini bisa jadi adalah transformasi peradaban. Kartini tak hanya dimaknai setiap tanggal 21 April karena nilai-nikai itu seharusnya tercermin dalam kehidupan keseharian.
Maka pada akhirnya, setiap perempuan adalah Kartini. Karena dari sanalah setiap manusia dilahirkan. Jika bukan karenanya, mungkin tulisan ini tak pernah ada. Dan jangan lupa, jika setiap perempuan adalah Kartini, maka sebaliknya, setiap lelaki adalah Kartono yang semestinya menjaga dan menaungi setiap Kartini-nya.
Selamat hari Kartini, Perempuanku. Kamu layak dijunjung tinggi.
Eki Lesmana
*Ditulis pada 21 April 2018
"Marc Spelmann"
sumber foto : google
Untuk pertama kalinya, saya menonton pertunjukkan magic yang mengharukan. Seminggu lalu seseorang telah memukau para juri Britain's Got Talent dengan aksinya. Ia adalah Marc Spelmann.
Sebenarnya pertunjukkan yang ia tampilkan sudah umum dilakukan oleh magician lain, karena di Indonesia juga ada Deddy Corbuzier maupun Demian yang seringkali menampilkan sulap mengenai prediksi. Tapi Marc menampilkan sesuatu yang berbeda. Ia tampil dengan sebuah kisah mengharukan melawan kemustahilan. Ia hadirkan kisah nyata akan keajaiban membenturkan takdir dengan usaha-usaha keras. Bagi saya, Marc adalah satu-satunya yang menampilkan sulap dengan sebuah rangkaian cerita. Atau barangkali ada yang lain? Entahlah, saya yang tidak tahu atau malas mencari tahu.
Marc membuka pertunjukkannya dengan melibatkan para juri. Mereka diberi kesempatan untuk memilih warna pensil, kartu kartun, memutar rubik, juga melingkari kata dalam sebuah buku yang nantinya akan menjadi pertunjukan inti dalam trik sulapnya. Setelah selesai dengan para juri, Marc memulai kisahnya melalui video yang sudah ia siapkan. Dalam video itu diceritakan bahwa ia bersama Tessa, istrinya, sudah mencoba lebih dari 5 kali untuk membuat bayi tabung karena mereka belum dikaruniai anak selama pernikahannya. Hingga suatu ketika untuk kesekian kalinya keajaiban itu datang dan akhirnya Tessa bisa hamil.
Isabella, anak mereka, dalam video tersebut tampak memegang sebuah pensil warna merah dan tidur bersama boneka yang mana keduanya sesuai dengan yang dipilih juri. Hadirin takjub. Bukan saja memukau, tapi kisah yang ia ceritakan memiliki nyawa tersendiri dalam pertunjukkannya. Kombinasi yang tepat, menurut saya.
Mata hadirin mulai berkaca-kaca ketika Marc menceritakan lebih lanjut bahwa beberapa bulan setelah mengandung, istrinya menderita kanker payudara. Tubuhnya mulai kurus, rambutnya rontok, dan ada kesedihan mendalam pada video yang ia tampilkan. Saya turut merasakan itu. Tapi keajaiban belum berhenti. Mereka terus berusaha agar anaknya bisa lahir dengan selamat bersama Ibu yang tetap sehat. Demi mewujudkan impian itu, Tessa harus menjalani kemoterapi dan mastektomi.
Dalam video berikutnya, tampak Isabella memainkan sebuah rubik dan pola rubik itu sama dengan yang telah diacak oleh juri. Saya terpana dan keterpanahan itu akhirnya sampai pada puncaknya ketika dua tahun lalu Marc membuat video tentang kata pertama yang diucapkan oleh Isabella, anaknya. Tanpa disangka yang ia ucapkan sama dengan kata yang dilingkari oleh juri pada sebuah buku. Penonton dan hadirin berdiri memberikan tepuk tangan, dari mata mereka tampak ada bening air mata yang tak kuasa menahan harunya kisah dan pertunjukkan itu, meski menonton melalui youtube, saya juga larut dalam kesedihan yang sama.
Saya sadar satu hal, sulap tidak selamanya tentang menghilangkan benda dan memunculkannya lagi. Sulap juga bukan hanya pertunjukkan dalam panggung megah yang dihadiri ribuan penonton. Sulap sejatinya adalah keajaiban-keajaiban dalam hidup setelah kita berusaha sekuat tenaga mencapai batas-batas yang barangkali mustahil terjadi. Dan kisah Marc dengan istrinya adalah bagian dari keajaiban itu. Kisah itu bukanlah kisah sedih, tapi kisah mengenai perjuangan untuk menunjukkan apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh sihir. Dan jika dalam hidup kita jarang sekali beroleh keajaiban, barangkali kita lupa akan kehadiran Tuhan yang seringkali cara kerjanya begitu misterius.
Eki Lesmana
Langganan:
Postingan (Atom)
